Jumat, 05 Juli 2013

Pergilah bersamanya.

Semilir angin malam menyelimuti kegundahan jiwa dan ragaku. Sembari merasakan tiupan angin yang berhembus dingin pada malam itu, hatiku sedang berseteru dengan fakta yang sedang terjadi saat ini. Aku adalah seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA. Pada saat itu, aku belum mengerti apapun tentang suatu hal yang sebenarnya sudah kudapatkan dari kedua orang tuaku. Ya, itu adalah cinta, sebuah perasaan kasih dan sayang yang kita miliki sejak lahir di dunia yang fana ini.

Suatu hari aku bertemu dengan seorang gadis yang berparas tidak terlalu cantik. Panggil saja dia Ayu. Dia memiliki sifat yang cukup pendiam sesaat pertama kali aku bertemu dengannya, berbeda sekali dengan sifatku yang cenderung ramai dan riang. Ayu mulai menjadi temanku, ntah apa yang membuatku menjadi temannya aku tidak tahu karena selama ini aku berteman dengan siapapun.

Waktu terus berjalan, tanpa ku sadari hubunganku dengannya sudah menjadi teman dekat. Aku belum menyadari perasaan apa yang ada dibenakku setiap kali aku bertemu dengannya, meskipun selama ini telah kutumpahkan perhatianku padanya.

Kami selalu bertegur sapa, berbicara dan bercanda tawa bersama. Aku amat sangat nyaman jika berada didekatnya, pandanganku tidak pernah terlepas darinya ketika berbicara atau bercanda bersamanya. Dan pada saat itulah aku terpikirkan untuk menjadikan ia sebagian dari dalam hidupku ini. Hati ini masih bingung dan resah. Di satu sisi ingin sekali ku jadikan dia sebagai bagian dalam hidupku, namun di sisi lain masih ada suatu hal yang masih mengganjal dalam hati ini. Aku tau banyak sekali kaum adam yang ingin menjadikan ia sebagai pelengkap dalam hidupnya, bagaimana tidak? Ia memiliki kepribadian yang sangat baik. Jika aku dibandingkan dengan kaum adam yang lain, ya aku memang tidak ada apa-apanya. Timbul pertanyaan yang muncul dalam benakku, “Akankah ia akan menerima cintaku ini jika aku menyatakan perasaanku kepadanya? Akankah ia menerima semua kekuranganku?” beribu pertanyaan bermunculan didalam pikiranku jika aku menjadikan ia sebagian dari hidupku.

Siang berganti malam, matahari pun mengembalikan sinarnya dan digantikannya oleh sinar rembulan. Di malam ini ku panjatkan seutas doa kepada tuhan dan agar aku bisa tahu apa yang harus ku perbuat untuk selanjutnya.  Tak lama kemudian, aku berdiri dan hendak untuk pergi tidur. Segelintir cahaya pun datang memenuhi alam mimpiku.

            Aku terbangun dan melepaskan mimpi itu, serta menggantikannya ke alam dunia nyata. Mentari pagi menyinari kamarku, suatu tanda agar aku bersemangat untuk pergi ke sekolah dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Sesampainya di sekolah aku masih belum menemukan Ayu di kelasnya. Entah apa yang kurasakan saat ini, rasa ini tak seperti biasanya. Aku jadi tidak ingin menemui gadis itu.

Jam 7 pagi dan lonceng sekolahku sudah berbunyi sebuah tanda untuk siswa masuk ke kelas masing-masing. Selama jam pelajaran aku selalu memikirkan dia. Tapi aku tidak semestinya seperti ini karena aku tidak ingin menampakkan wajah kesedihanku ini kepada teman sekelasku. Tak lama kemudian lonceng berbunyi, tanda istirahat tiba. Guru pengajar ku keluar, dan aku pun keluar untuk membeli makanan kecil di kantin. Setibanya di kantin, aku bertemu dengannya. Dia seperti biasa, berparas tidak cantik namun selalu menjadi perhatian kaum adam. Dia melihatku dan menegurku, kemudian dia mengajakku untuk pergi ke kelasnya.

            Sekarang aku dan dia menempati kelas yang berbeda, namun tidak terlalu jauh. Ketika di kelas aku langusng duduk untuk menikmati makanan kecil yang aku beli di kantin tadi. Dia mengambil sesuatu dan meninggalkan ponselnya di atas meja. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada pesan singkat masuk ke ponselnya.

“Yu, ada sms masuk tuh.” Kataku pada ayu.

“Sebentar, ya” jawab Ayu.

“Aku baca yaa?” Kataku yang kemudian mengambil ponselnya dan mulai membuka pesan yang masuk.

Kamu lagi apa? Sudah sampai sekolah? isi pesan dari pengirim itu. Ku diamkan saja, karena ku tak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Dia kembali bergabung dengan kami, dan melihat ponselnya.

“Ciyee pacar kamu sms mulu tuh, yu haha” ujar salah seorang temanku pada Ayu.

“Oh ya? Mana ponselku?” Jawabnya dengan senyum yang senang mendapat pesan dari orang yang dicintainya.

“Cieeee kan” sahut beberapa teman yang lain.

Dia hanya menjawab dengan senyuman manis dari mulutnya.

“Asikkan” sahutku kepadanya. Meskipun hati dan perbuatan saling bertolak belakang tapi aku tidak akan menunjukkan kesedihanku padanya.

            Setelah selesai makan, aku bergegas menuju kelasku. Aku menahan segala rasa yang ada di hati ini, namun tetap. Aku tidak akan menunjukkan kesedihanku pada orang lain. Kupikir itu bagus, bila dia memiliki orang yang menyukainya dan sekarang aku mulai merelakannya karena kekuranganku ini.


Ku harap orang yang ia miliki sekarang akan menjadi orang yang terbaik untuknya. Aku akan selalu tersenyum melihatnya bahagia dengan orang yang dicintainya. Biarkan perasaan ini ku pendam, aku yakin jika ada waktu yang tepat, aku akan memberitahu kepadanya tentang perasaanku yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar