Semilir angin malam menyelimuti
kegundahan jiwa dan ragaku. Sembari merasakan tiupan angin yang berhembus
dingin pada malam itu, hatiku sedang berseteru dengan fakta yang sedang terjadi
saat ini. Aku adalah seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA. Pada saat
itu, aku belum mengerti apapun tentang suatu hal yang sebenarnya sudah
kudapatkan dari kedua orang tuaku. Ya, itu adalah cinta, sebuah perasaan kasih
dan sayang yang kita miliki sejak lahir di dunia yang fana ini.
Suatu hari aku bertemu dengan seorang
gadis yang berparas tidak terlalu cantik. Panggil saja dia Ayu. Dia memiliki
sifat yang cukup pendiam sesaat pertama kali aku bertemu dengannya, berbeda
sekali dengan sifatku yang cenderung ramai dan riang. Ayu mulai menjadi
temanku, ntah apa yang membuatku menjadi temannya aku tidak tahu karena selama
ini aku berteman dengan siapapun.
Waktu terus berjalan, tanpa ku sadari
hubunganku dengannya sudah menjadi teman dekat. Aku belum menyadari perasaan
apa yang ada dibenakku setiap kali aku bertemu dengannya, meskipun selama ini
telah kutumpahkan perhatianku padanya.
Kami selalu bertegur sapa, berbicara
dan bercanda tawa bersama. Aku amat sangat nyaman jika berada didekatnya,
pandanganku tidak pernah terlepas darinya ketika berbicara atau bercanda
bersamanya. Dan pada saat itulah aku terpikirkan untuk menjadikan ia sebagian
dari dalam hidupku ini. Hati ini masih bingung dan resah. Di satu sisi ingin
sekali ku jadikan dia sebagai bagian dalam hidupku, namun di sisi lain masih
ada suatu hal yang masih mengganjal dalam hati ini. Aku tau banyak sekali kaum
adam yang ingin menjadikan ia sebagai pelengkap dalam hidupnya, bagaimana
tidak? Ia memiliki kepribadian yang sangat baik. Jika aku dibandingkan dengan
kaum adam yang lain, ya aku memang tidak ada apa-apanya. Timbul pertanyaan yang
muncul dalam benakku, “Akankah ia akan menerima cintaku ini jika aku menyatakan
perasaanku kepadanya? Akankah ia menerima semua kekuranganku?” beribu
pertanyaan bermunculan didalam pikiranku jika aku menjadikan ia sebagian dari
hidupku.
Siang berganti malam, matahari pun
mengembalikan sinarnya dan digantikannya oleh sinar rembulan. Di malam ini ku
panjatkan seutas doa kepada tuhan dan agar aku bisa tahu apa yang harus ku
perbuat untuk selanjutnya. Tak lama
kemudian, aku berdiri dan hendak untuk pergi tidur. Segelintir cahaya pun datang
memenuhi alam mimpiku.
Aku terbangun dan melepaskan mimpi
itu, serta menggantikannya ke alam dunia nyata. Mentari pagi menyinari kamarku,
suatu tanda agar aku bersemangat untuk pergi ke sekolah dan melakukan aktivitas
seperti biasanya. Sesampainya di sekolah aku masih belum menemukan Ayu di
kelasnya. Entah apa yang kurasakan saat ini, rasa ini tak seperti biasanya. Aku
jadi tidak ingin menemui gadis itu.
Jam 7 pagi dan lonceng sekolahku
sudah berbunyi sebuah tanda untuk siswa masuk ke kelas masing-masing. Selama
jam pelajaran aku selalu memikirkan dia. Tapi aku tidak semestinya seperti ini
karena aku tidak ingin menampakkan wajah kesedihanku ini kepada teman sekelasku.
Tak lama kemudian lonceng berbunyi, tanda istirahat tiba. Guru pengajar ku
keluar, dan aku pun keluar untuk membeli makanan kecil di kantin. Setibanya di
kantin, aku bertemu dengannya. Dia seperti biasa, berparas tidak cantik namun
selalu menjadi perhatian kaum adam. Dia melihatku dan menegurku, kemudian dia
mengajakku untuk pergi ke kelasnya.
Sekarang aku
dan dia menempati kelas yang berbeda, namun tidak terlalu jauh. Ketika di kelas
aku langusng duduk untuk menikmati makanan kecil yang aku beli di kantin tadi. Dia
mengambil sesuatu dan meninggalkan ponselnya di atas meja. Tiba-tiba ponselnya
berdering tanda ada pesan singkat masuk ke ponselnya.
“Yu, ada sms masuk tuh.” Kataku pada ayu.
“Sebentar, ya” jawab Ayu.
“Aku baca yaa?” Kataku yang kemudian mengambil ponselnya dan mulai
membuka pesan yang masuk.
Kamu lagi apa? Sudah sampai
sekolah? isi pesan
dari pengirim itu. Ku diamkan saja, karena ku tak tahu siapa yang mengirim
pesan itu. Dia kembali bergabung dengan kami, dan melihat ponselnya.
“Ciyee pacar kamu sms mulu tuh, yu haha” ujar salah seorang
temanku pada Ayu.
“Oh ya? Mana ponselku?” Jawabnya dengan senyum yang senang
mendapat pesan dari orang yang dicintainya.
“Cieeee kan” sahut
beberapa teman yang lain.
Dia hanya menjawab dengan senyuman manis dari mulutnya.
“Asikkan” sahutku kepadanya. Meskipun hati dan perbuatan
saling bertolak belakang tapi aku tidak akan menunjukkan kesedihanku padanya.
Setelah
selesai makan, aku bergegas menuju kelasku. Aku menahan segala rasa yang ada di
hati ini, namun tetap. Aku tidak akan menunjukkan kesedihanku pada orang lain.
Kupikir itu bagus, bila dia memiliki orang yang menyukainya dan sekarang aku
mulai merelakannya karena kekuranganku ini.
Ku harap orang yang ia miliki
sekarang akan menjadi orang yang terbaik untuknya. Aku akan
selalu tersenyum melihatnya bahagia dengan orang yang dicintainya. Biarkan
perasaan ini ku pendam, aku yakin jika ada waktu yang tepat, aku akan
memberitahu kepadanya tentang perasaanku yang sesungguhnya.