Pernahkah kamu merasakan kesepian yang amat sangat mendalam?
Pernahkan kamu merasakan rindu yang amat sangat mendalam?
Pernahkah kamu merasakan perihnya hatimu karena mencintai
seseorang yang tidak menghargai perasaanmu sedikitpun?
Dan pernahkah kamu merasakan ingin pergi dari dunia ini
karena beban yang kamu pikul begitu berat sehingga kamu sudah tidak sanggup?
Pernahkah?!
Lalu, apa yang kamu pikirkan?
Pergi begitu saja meninggalkan rindumu, kesepianmu, dan beban
beratmu itu?
Selintas pikiran itu ada dikepalaku. Pikiran yang ingin
meninggalkan dunia ini, meninggalkan semua orang yang telah mengenalku,
meninggalkan dunia yang begitu kejam sehingga membuat hatiku terluka. Tetapi,
aku segera merubahnya.
Aku memang ingin pergi. Tetapi bukan itu jalan yang terbaik,
bukan itu keputusan terbaiknya dan bukan itu cara untuk menyelesaikan segala
beban berat yang sedang ku hadapi.
Pada kenyataannya aku harus menghadapi dan menyelesaikan
segala beban berat yang sedang ku pikul. Aku harus memikirkan jalan keluarnya.
Jalan yang membuat hatiku semakin tenang dan membuat beban yang berat itu
terlepas. Tapi dimana jalan itu? Kemana aku harus melangkah?
Seakan-akan aku berada dijalan buntu tetapi tidak bisa
memutar balik karena ketika aku memutar balik, didepan sana terdapat singa yang
sedang menungguku dan siap untuk melahapku. Oh sungguh kejam. Aku tidak mungkin
merelakan diriku begitu saja. Aku tidak mungkin jatuh dan menyerah dihadapan
singa itu. Tidak mungkin! Aku harus menghadapinya. Aku tidak ingin menyerah
tetapi aku tidak tahu harus bertindak apa. Aku tidak mungkin bertahan disini
dengan begitu lama karena aku tahu singa itu akan segera melahapku. Tetapi
otakku rasanya tidak sanggup untuk berfikir. Aku menangis. Aku merasa lemah.
Kemudian aku sadar bahwa disebelahku tersapat bambu yang ujungnya runcing, aku
ingin segera meraih bambu itu namun singa itu menatap ku dengan tajam seakan-akan
setiap serakanku direkam oleh matanya yang buas. Aku tenang. menciba
mengendalikan diriku, mencoba meraih bambu itu dengan perlahan, mencoba agar
singa itu tidak maju dan segera melahapku.
Keringat dingin dan jantungku pun berdegup amat sangat
kencang. Perlahan tapi pasti. Aku mencoba dengan amat perlahan untuk meraih
bambu tersebut. Satu langkah, singa itu mengikuti langkahku dengan mulai maju
satu langkah juga dan sorot matanya semakin garang. Aku harus cepat. Aku tidak
ingin berada disituasi yang semakin membuat ku menjadi lebih buruk. Aku harus
menyelesaikannya dengan cepat. Dua langkah, singa itu menonjolkan taringnya
yang tajam. Jantungku rasanya mau lepas. Kakiku gemetar. Aku tidak kuat. Tapi
apa boleh buat? Aku harus menyelesaikannya. Tiga langkah dan...............hap!
Bambunya berhasil ku raih tapi tidak segampang itu, karena kemudian singa itu
siap untuk maju, mengaung, dan mengeluarkan taringnya yang tajam. tanganku
gemetar. Nafasku semakin sesak. Singa itu menatapku dengan tajam, berlari, dan
tsruuukk! Bambu yang ku pegang itu tepat berada di jantung singa tersebut.
Jantung singa itu pun berhenti berdetak.
Aku tersenyum. Aku mendapatkan jalanku. Aku terlepas dari
beban beratku. Tidak gampang memang menyelesaikannya tetapi aku yakin aku bisa.
Aku bisa menghadapi semuanya. Aku bisa menyelesaikan dengan baik dan berjalan
dengan tenang. Karena pada akhirnya hanya aku yang dapat menyelesaikan dan
tidak akan ada jalan keluar kalau tidak aku yang membuatnya.
Bukan masalah waktu, karena waktu semakin cepat berlalu dan
membiarkan diriku terlena dengan situasi yang tidak membuatku nyaman. Tapi ini
masalah diriku, masalah yang harus ku hadapi, yang harus ku pikirkan, dan yang
harus ku selesaikan dengan cepat dan dengan tenang. Karena Allah tidak akan
memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya. Allah memberikan semua ini
karena Allah tahu aku dapat menyelesaikannya dengan tenang.